Menilik Dibalik Terhentinya Pembangunan Masjid

Sukma_Polinela; Sempat terasakan angin segar bagi masyarakat Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bahwa akan dibangun salah satu tempat pengembangan rohani yaitu masjid baru. Masjid baru ini membutuhkan dana kurang lebih 8 milyar, meliputi pembangunan pondasi, lantai dasar, dinding hingga tahap akhir. Namun, pembangunan masjid baru terhenti saat pembangunan pondasi selesai.

 

 

“Terhentinya pembangunan masjid baru dikarenakan dana yang tersisa belum terpenuhi untuk pembangunan lantai dasar. Untuk pembangunan lantai dasar itu kita menggunakan cor beton yang memiliki tebal berkisar ± 15cm,” ujar Zainal Arifin selaku wakil ketua panitia pembangunan masjid.

            Pembangunan lantai dasar tidak dapat dilaksanakan jika dana yang dibutuhkan belum terpenuhi. Hal ini dikarenakan pembangunan lantai dasar menggunakan cor beton sehingga dalam pembangunan tidak dapat dilakukan secara bertahap karena cor beton tersebut tidak dapat menyatu antara yang telah kering dan basah. Pembangunan akan dimulai kembali ketika dana yang terkumpul telah mencapai Rp.500.000.000,-  untuk membangun lantai dasar.

Saat ini panitia pembangunan masjid memfokuskan untuk membangun lantai dasarnya karena dari sekian banyak tahap pembangunan masjid, lantai dasar merupakan tahap pembangunan yang memakan banyak biaya. Selain itu, pembangunan masjid di atas embung mengharuskan untuk dibangunnya pondasi yang tepat dan kokoh, terhitung untuk membangun pondasi yang tepat membutuhkan biaya berkisar Rp.800.000,- untuk setiap meter3 nya.

“Pembangunan masjid kita yang diatas embung sehingga menjadi mahal dan pembangunannya sedikit lama. Berbeda jika diatas daratan dengan dana yang telah terkumpul mungkin telah membangun hingga mencapai dinding,” ungkap Eksa Ridwansyah selaku bendahara pembangunan masjid.

Sejak selesainya tahap pembangunan pondasi masjid, panitia pembangunan masjid telah mengumpulkan dana kurang lebih sebesar Rp.380.000.000,-. Pemasukan utama dalam pembangunan masjid berasal dari civitas akademik yang bersedia memotong gajinya untuk disedekahkan, selain itu juga berasal dari mahasiswa-mahasiswai Polinela. Jika dirata-ratakan pengumpulan dana dari potongan gaji karyawan hanya mencapai 10 juta per bulan. Sedangkan, dana yang terkumpul dari kotak-kotak yang disebar mencapai 1 juta  untuk setiap minggunya.

“Tidak dapat kita pungkiri bahwa mencari donatur untuk pembangunan masjid baru cukup sulit, karena tidak ada bantuan dana dari Ristek Dikti sedikitpun,” jelas Sarono selaku Direktur Polinela.

Saat ini panitia pembangunan masjid telah menyebar blanko untuk civitas akademis dengan berbagai opsi seperti Rp.100.000,- sampai Rp.200.000,-  atau sesuai dengan kehendak donatur. Kemudian terdapat jangka waktu pemotongan gaji civitas akademis mulai dari 1 tahun  sampai 2 tahun atau hingga pembangunan masjid selesai. Dengan adanya masjid kampus mahasiswa dapat memanfaatkanya sebagai sarana untuk pengembangan kompetensi diri, memupuk, dan memperkuat karakter diri. Melalui kajian-kajian keagamaan islam, peribadatan maupun sebagai pusat syiar islam kepada masyarakat luas.

“Saya juga berharap masyarakat polinela yang memiliki rezeki lebih untuk ikut berperan dalam pembangunan masjid al banna karena gak ada salahnya kita memulai dari kitanya sendiri,” tuntas Sarono.(*Aisyah)